31 Agustus 2010

Makna Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus





Makna Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus[1]

Oleh: Pendeta Essy Eisen

Tuhan! Ajarlah kami ini mati
dalam maut-Mu dengan akal, hati;
bangkit, turut jalan-Mu
ke hadapan hadirat-Mu.[2]

Komisi Pengkajian Teologi GKI Sinode Wilayah Jawa Barat telah memberikan kepada saya, sistemasi besar penyampaian bahan penghantar diskusi bagian saya, sebagai “wakil” dari kalangan pendeta yang meliputi: pandangan (berangkat dari sumber-sumber pengetahuan teologis, yang melingkupi tradisi, Alkitab, dll) lalu sharing pengalaman internal-eksternal dan ditutup dengan refleksi. Menurut saya ini sangat membantu sebagai pembatas masalah, mengingat topik “penebusan kristus” merupakan topik yang sangat kaya sekali untuk digali dan didiskusikan, tentu dengan tetap menghasilkan inspirasi-inspirasi dorongan etis-teologis bagi warga gereja agar dalam melaksanakan tugas dan panggilannya (mengingat apa yang dikatakan Eka Darmaputera) menjadi lebih relevan ke luar dan signifikan ke dalam.


PANDANGAN

Upaya berteologi tidak dilakukan dalam ruang hampa. Sebagai bagian dari ungkapan iman yang menjawab tantangan kehidupan dalam bentuk pikiran dan tuturan (meliputi juga tataran operatifnya), upaya dan hasil dari berteologi amat terkait dengan konteks yang ada dalam ruang dan waktu tertentu. Di dalamnya tentu ada refleksi, buah dari kecintaan akan kehidupan yang bermakna dan luhur, hal mana dalam kekristenan dihayati sebagai respons atas sapaan kasih anugerah Ilahi yang membarui cara pandang kehidupan. Oleh sebab itu sejatinya ada tiga sisi yang hadir dalam berteologi yaitu konteks, akal budi dan iman akan tindakan ilahi dalam tantangan kehidupan (termasuk yang dipersaksikan Alkitab maupun tradisi).[3]

Para penulis kitab Perjanjian Baru dapat dikatakan sebagai para Teolog perdana. Dalam konteksnya mereka telah merefleksikan makna hidup mereka secara baru akibat kehadiran, karya dan perjumpaan dengan Yesus Kristus baik secara langsung maupun melalui tuturan (baca:teologi) yang hidup dari para saksi-saksi iman perdana, termasuk yang hidup pada masa Perjanjian Lama. Semenjak itu, refleksi dan teologi atas karya agung Yesus Kristus di bumi terus berkembang hingga sekarang.[4] Karena topik kita dibatasi pada refleksi dan teologisasi atas kematian dan kebangkitan Yesus, maka berikut sedikit gambaran yang menandakan perkembangan hal yang dimaksud.

1. Refleksi dan Teologisasi atas kematian dan kebangkitan Yesus Kristus
a. Oleh para penulis kitab suci Perjanjian Baru
Menurut Guthrie, untuk memahami tulisan Perjanjian Baru (PB) tentang karya penyelamatan Kristus, kita harus mengenali konteks yang dipahami oleh para penulis PB saat itu. Teologi para penulis PB setidaknya diwarnai oleh: gagasan kurban yang akarnya terdapat dalam pemikiran Yahudi, pemikiran yang sudah diwarnai gagasan Yunani tetapi yang tidak sama sekali kehilangan pengaruh Yahudi, seperti misalnya pendamaian dan penebusan lalu berlanjut dengan gagasan yang lebih khas Yunani seperti misalnya penyempurnaan dan penerimaan terang [sic!].[5]

Penulis Injil kanonik[6]
Markus mengisahkan bahwa dalam pembaptisan-Nya oleh Yohanes, Yesus menyadari bahwa Ia dipanggil Allah dengan sebutan yang istimewa “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi” (Mrk 1:11). Semenjak itu karya-Nya dihayati sebagai pemberitaan tibanya Kerajaan Allah (Mrk 1:14-15). Karya-Nya tidak mudah, dan dalam masa sengsara-Nya, penderitaan yang Yesus alami berkaitan erat dengan penghayatan hamba Allah yang menderita dalam teks Perjanjian Lama,[7] khususnya kitab Yesaya 53 (Mrk 10:45, 14:22-25).

Matius menekankan bahwa segenap kehidupan Yesus harus dilihat sebagai pemenuhan nubuat kenabian Perjanjian Lama. Dalam kaitan dengan ini, penekanan akan pentingnya pemberlakuan Taurat dalam pemaknaan yang terbarui sangat kentara (Mat 5:17, 20). Sejalan dengan Markus, penginjil Matius melihat kematian Yesus sebagai kematian hamba Allah yang menderita dengan tambahan penekanan “yang dilakukan untuk orang lain” (Mat 20:28; 26:26-29) tanpa menafikan peringatan-Nya akan penghakiman Allah yang adil pada saat-Nya. Kematian Yesus menjadi kejadian dramatis yang berkarakterkan “keteladanan”. Siapa yang memilih untuk mengikuti jalan Yesus akan menghadapi siksa dan penderitaan. Yesus membawa keluar seseorang dari ikatan dosa dengan menunjukkan kepada mereka jalan yang diwarnai oleh pemberlakuan kebenaran yang mengandung resiko (Mat 5:20) dan kasih kepada sesama yang beda dari biasanya (Mat 5:48).[8]

Lukas mengungkapkan pemaknaan kematian Kristus dalam kisah perjamuan malam terakhir (Luk 22:14-23). Maknanya dapat disejajarkan dengan yang ada pada Maitus dan Lukas, yaitu bahwa kematian-Nya merupakan penderitaan “yang dilakukan untuk yang lain”. Penyelamatan Yesus dalam terang berita Injil Lukas terlihat pada saat Yesus tampil sebagai “pelayan”, yang memberikan kepada yang miskin perspektif baru dan kepada yang kaya bagaimana mereka harus hidup (Luk 22:26). Saat ini diberlakukan dengan ketulusan, tatanan sosial kemasyarakatan akan tampil beda (Luk 17:7-10).[9]

Teologi penginjil Yohanes dikenal dengan “Kristologi dari atas”, di mana penekanannya bukan kepada manusia Yesus dari Nazaret tetapi pada Anak Allah yang pra-eksisten, datang dari Sorga turun ke Bumi. Dalam keutuhan kekaryaan Allah dan Yesus, Bapa dan Anak, terkandung maksud penyelamatan-Nya bagi dunia (Yoh 3:16-21). Bagi Yohanes salib Yesus menjadi maha karya Allah yang menyelamatkan yang telah dimulai semenjak inkarnasi-Nya di dunia (Yoh 12:23, 19:30)[10]

Paulus[11]
Pemaknaan Paulus atas kematian Yesus amat berkaitan dengan pengalaman apokaliptisnya (peristiwa menuju damasyik). Pandangannya yang terlihat positif atas kematian orang yang disalib merupakan konsekuensi dari perjumpaannya dengan Tuhan yang bangkit. Tanpa pembangkitan Yesus, salib tetap tinggal sebagai kutuk baginya, mengingat latar belakang pemahaman Yudaisme yang dihidupi sebelumnya.[12] Bagi Paulus, kematian Yesus menyelamatkan setiap orang yang percaya kepada-Nya dari kejahatan dunia pada masa kini (Gal 1:3-4).[13] Keselamatan itu terjadi pada saat hidup yang lama mati “bersama Kristus” dan dibangkitkan Allah dalam cara pandang yang baru[14] (Rm 6:3-4, 2 Kor 5:17, Flp 2:5). Untuk menjelaskan amanat cara penyelamatan melalui kematian Kristus itu dalam konteks jemaat yang digembalakannya Paulus menggunakan bahasa metaforis “penebusan” (1 Kor 6:20; 7:22).[15] Dalam hidup yang telah terbarui itu, aspek telah didamaikan dan mewujudkan perdamaian juga ditegaskan (2 Kor 5:18-21).[16] Jadi dalam keutuhan pemaknaannya, Paulus menghayati bahwa jalan yang sudah ditempuh Kristus juga tengah menjadi jalannya untuk sampai kepada Allah. Setidaknya ini yang acap muncul dalam pesan etis-teologis dalam surat-suratnya.[17]

Paulinis
Surat Kolose, mengangkat pemaknaan kematian Yesus melalui sebuah himne dalam Kolose 1:18-20. Mengingat konteksnya, penulis surat ini hidup dalam kekristenan yang kental dengan tradisi Yahudi Helenis dalam bayang-bayang teologi yang sudah digagas Paulus. Ia menghayati Kristus tampil sebagai kolabolator antara pencipta dan ciptaan yang hadir menwujudkan pendamaian melalui salib. Bagian yang serupa juga muncul dalam Efesus 1:7, 2:13). Darah salib Kristus mewujudkan pendamaian bukan saja antara Allah dan manusia tetapi juga antara sesama manusia, khususnya orang Yahudi dan bukan Yahudi, antara yang bersunat dan tak bersunat (Ef 2:14-16 perhatikan juga 1 Tim 2:3-5).[18]

Surat Pastoral
Penulis Surat Ibrani mengungkapkan pemaknaan terhadap kematian Yesus dalam beberapa bagian suratnya. Solidaritas adalah kata kunci di dalam pemkanaannya akan kematian Yesus (Ibr 2:14-18, 4:15, 5:7-8).[19]  Penggunaan metafora Perjanjian Lama yang dikembangkan dalam terang iman kepada pendamaian yang dilakukan oleh karena kematian Yesus juga menjadi ciri khas pemaparannya. Sebagai Imam besar, Yesus bukan saja menjadi pengantara umat, tetapi terlibat langsung untuk memberikan yang baik kepada umat dalam penyerahan diri-Nya sebagai korban (Ibr 7:27).[20]

Dari paparan singkat ini setidaknya kita dapat melihat bahwa para penulis PB merancangbangun refleksi dan teologi yang sangat beragam dan bahkan kadang terlihat terpecah-pecah, jauh dari sistemasi yang rapi dalam memaknakan kematian dan kebangkitan Yesus. Tetapi dalam keberagaman itu mereka sepertinya sepakat, bahwa kematian Yesus memberikan dampak bagi kehidupan manusia yang berdosa, sehingga pada akhirnya mereka memiliki cara pandang yang baru dalam menjalani hidup karena kasih setia Allah yang berlimpah melalui karya Kristus yang utuh meliputi kelahiran, karya penginjilan nilai-nilai Kerajaan Allah, kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya.

b. Oleh para Bapa Gereja
Gustaf Aulén melalui bukunya Christus Victor, mencermati ada tiga teori utama yang berkaitan dengan pemaknaan kematian dan kebangkitan Yesus di mana ketiganya digagas oleh para Bapa Gereja[21] yaitu: Kristus Pemenang (ransom to satan), Pengembalian[22] (satisfaction to God) dan Pengaruh Moral (moral influence). Teori yang pertama digagas oleh Iraneus yang menekankan kemenangan atas si jahat (stressing ‘victory’ over evil), yang kedua amat dipengaruhi oleh karya Anselmus dengan menekankan pengembalian kehormatan Allah (stressing ‘satisfaction’ made to God), dan Abelardus yang menekankan keteladanan Kristus sebagai perwujudan kasih setia Allah bagi manusia yang berdosa (stressing the force of example of Christ).[23] Saya tidak memaparkan teori ini secara mendalam dan mengundang bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai paparan ini membaca buku karya Joas Adiprasetya yang berjudul “Berdamai dengan Salib”.[24]

c. Oleh para teolog kontemporer
Semenjak kemunculan tiga teori “klasik” di atas muncul perkembangan pemikiran dari para teolog kontemporer yang merupakan variasi atau perumusan ulang dari teori klasik itu. Dapat disebutkan sebagai contoh misalnya yang dilakukan oleh George Fox, SØren Kierkegaard, Schleirmacher, Moltmann, Schillebeeckx, Paul Tillich, R.C. Moberly, Martin Luther King, Jr.[25] Tidak sedikit juga yang melakukan upaya kritik terhadap teori klasik itu dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini, dengan alasan bahwa aniaya dan kekerasan dalam komunitas masyarakat dapat dikaitkan dengan teori pendamaian/penebusan itu. Mereka yang menyuarakan hal ini antara lain berasal dari kalangan teolog kulit hitam, feminis dan liberal. Bersamaan dengan itu mereka memunculkan teori-teori nir-kekerasan tentang pendamaian/penebusan Kristus. Kebanyakan mereka beranggapan bahwa rekonsiliasi antara manusia dan Allah dicapai melalui kehidupan dan pengajaran Yesus dan bukan melalui aniaya dan siksaan-Nya.[26]

2. Komentar: Polemik atau dinamik?
Melihat keragaman refleksi dan teologisasi atas kematian dan kebangkitan Yesus, kelihatannya saya tidak menjumpai teori yang lengkap tentang pendamaian/penebusan. Setiap teori mempunyai kebenaran yang diusahakan untuk dinyatakannya. Terhadap keadaan ini, saya dapat memilih apakah akan melihatnya dalam sudut pandang polemik (upaya mempertentangkan teori yang satu dengan yang lain) atau sebagai sebuah dinamik (keberadaan yang beragam yang dapat saling melengkapi satu dengan yang lain). Sebagaimana saya sudah ungkapkan di awal tulisan ini, upaya berteologi selalu terikat dalam ruang dan waktu dalam memaknakan hidup yang disapa oleh anugerah ilahi untuk menghasilkan tindakan-tindakan etis yang benar. Upaya pembelajaran dogma senantiasa harus diiringi oleh kesadaran perubahan pola tindakan etis kehidupan. Oleh sebab itu jauh lebih mencerahkan bagi saya untuk melihat refleksi dan teologisasi atas kematian dan kebangkitan Yesus dalam sudut pandang yang dinamik ketimbang polemik, melihatnya dari pandangan sejarah dogma dengan memperhatikan konteks di mana refleksi-teologisasi itu lahir dan berkembang sambil tetap kritis terhadap hasil-hasil etis yang muncul dari upaya refleksi-teologisasi itu.


PENGALAMAN DALAM PENGAMALAN

3. Pengamalan Internal (Pastoral)
Sebagai pendeta GKI, saya menerima Tata Gereja GKI dan memberitakan ajaran GKI. Dalam katekisasi saya memberitakan pokok-pokok Pengakuan Iman Rasuli, yang dikemas dalam pokok-pokok pengajaran dalam buku “Intisari Iman Kristen”.[27] Sesekali saya memperhatikan juga buku “Tuhan Ajarlah Aku” (Pegangan Iman Kristen)[28], “Aku Percaya”[29], “Dogmatika Masa Kini”[30],  dan “Iman Kristen”[31]. Tentu yang paling utama dari semua buku itu adalah Alkitab dan penafsiran atasnya dengan menggunakan perangkat-perangkat dan cara penafsiran sebagaimana yang telah saya dapatkan semasa dalam pendidikan teologi di STT Jakarta.

Selama melakukan indoktrinasi ajaran GKI, terkadang muncul diskusi-diskusi kecil berawal dari pertanyaan peserta di dalam kelas katekisasi atau kelas pemahaman Alkitab, yang berkaitan dengan pemaknaan akan kematian dan kebangkitan Yesus. Sejauh hemat saya, pertanyaan-pertanyaan yang kemudian berkembang menjadi diskusi itu pada umumnya tidak terlalu mempermasalahkan doktrin penebusan Kristus yang dipegang GKI. Mereka menerimanya secara taken for granted. GKI sendiri sebagai bagian dari gereja yang ada pada tradisi reformasi, berpegang pada pemaknaan atas kematian dan kebangkitan Yesus yang umumnya dikenal dengan karya penebusan berangkat dari pengajaran Calvin. Singkatnya isi pengajaran itu ialah karena Kasih karunia Allah, murka Allah menjadi lenyap saat Yesus Kristus mati di kayu salib.

Dapat disimpulkan sejauh pengalaman dalam pengamalan serta pemberitaan ajaran ini, belum ada tanggapan negatif anggota jemaat dalam bentuk complain bahwa ajaran ini mempengaruhi tindakan etisnya secara buruk dalam keseharian hidup. Oleh sebab itu, bagi saya ajaran GKI khususnya yang berkaitan dengan refleksi dan teologisasi atas pemaknaan kematian dan kebangkitan Yesus ini masih layak untuk terus diamalkan dan diberitakan, kecuali pada suatu hari muncul tanggapan negatif dari anggota jemaat yang berpendapat bahwa pengajaran ini telah membuatnya menjadi mudah  berbuat jahat, kasar dan keras kepada orang lain dan lalu meninggalkan kasih karunia Tuhan.

4. Pengalaman Sosial
Pada suatu hari minggu (saya lupa tanggalnya), sebelum saya membawakan sebuah acara pembinaan mengenai lingkungan hidup di GKI Melur, saya menerima SMS dari Ioanes Rakhmat. Isinya, penawaran buku terbarunya yang berjudul “Membedah Soteriologi Salib” dan “Menguak Kekristenan Yahudi Perdana”. Saya lalu membelinya. “Wow, direct from the Author” tulis saya di SMS balasan itu, sekaligus menuliskan alamat kirim ke GKI Halimun. Belakangan hari dia SMS lagi, ada expanded version dari buku “Membedah Soteriologi Salib”. Saya juga membelinya. Buku “Membedah Soteriologi Salib” kedua versinya sudah saya baca di waktu luang saya. Buku “Menguak Kekristenan Yahudi Perdana” belum saya baca. Belum sempat. Beberapa waktu kemudian bukunya itu menjadi polemik. Jelas saja menjadi polemik, yang bersangkutan saat itu adalah kolega saya sebagai Pendeta GKI tetapi memberitakan ajaran yang bukan menjadi ajaran GKI dalam kaitan dengan pemaknaan kematian dan kebangkitan Yesus. Bahkan, Joas Adiprasetya yang kemudian menuliskan buku tanggapan atas buku “Membedah Soteriologi Salib” berpendapat dalam bagian bukunya, upaya “pembedahan” itu tidak berujung kepada upaya kuratif terhadap soteriologi salib, tetapi lebih kepada upaya destruktif, “pembunuhan” atas soteriologi salib.[32]

Saya pribadi sampai saat ini masih menghargai Ioanes Rakhmat sebagai pribadi yang unik dan memiliki talenta yang cukup dalam upaya menelaah dan menafsir serta bereksplorasi dalam memuaskan akal budi karunia Tuhan. Juga menghargai Joas Adiprasetya yang menurut saya telah memberikan apa yang ia sebut sendiri sebagai sebuah generous critique kepada Ioanes Rakhmat sehubungan dengan penerbitan bukunya itu -yang juga mengungkapkan pada akhirnya pilihan panggilan mutakhir hidupnya- seraya berupaya menyapa umat untuk memiliki wawasan yang lebih matang dan dewasa dalam mengkritisi upaya refleksi dan teologisasi mutakhir dan progresif atas kematian dan kebangkitan Yesus yang memang sedang terus berkembang saat ini di negeri paman Sam dalam komunitas-komunitas yang mengusung bendera progresifitas (tetapi tidak atau rasanya belum kentara di Indonesia).

Inti dari pengalaman sosial ini bagi saya ialah bahwa upaya refleksi dan teologisasi atas kematian dan kebangkitan Yesus seharusnya memang menjadi upaya yang terus menerus terjadi dalam kehidupan gereja sehingga ajaran tidak menjadi perkara yang taken for granted saja, tetapi menjadi perkara reflektif-kritis-analitis yang melahirkan tindakan-tindakan pembaruan etis yang memanusiakan manusia lain. Tentu di dalamnya ada sudut pandang yang melihat bahwa “yang berbeda” itu adalah bagian dari dinamika kreatif dan bukan melulu sebagai polemik mengingat sedari awal, upaya refleksi dan teologisasi atas kematian dan kebangkitan Yesus itu beragam. Dalam sudut pandang dinamis, setiap usaha pembacaan secara baru ajaran yang selama ini taken for granted, menjadi sebuah tindakan kesadaran spiritual yang patut dihargai, termasuk juga segenap upaya kritis yang mengikuti sesudahnya.


REFLEKSI

5. Hidup dalam Iman dan Misi Yesus Kristus
Pengakuan Iman GKI dalam Tata Gereja Pasal 3 mengungkapkan,
GKI mengakui imannya bahwa Yesus Kristus adalah:
a. Tuhan dan Juruselamat dunia, Sumber kebenaran dan hidup
b. Kepala Gereja, yang mendirikan gereja dan yang memanggil gereja untuk hidup dalam iman dan misinya.[33] (cetak miring oleh saya).

“Hidup dalam iman dan misinya”. Saya menafsirkan “misinya” di sini sebagai misi gereja. Dalam mukadimah Tata Gereja GKI terungkap bahwa misi gereja itu bersumber dari misi Allah, yang mencapai puncak-Nya dalam Yesus Kristus.[34] Jadi rasanya boleh ditafsirkan, pengakuan iman itu dapat dibaca menjadi “Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja memanggil Gereja untuk hidup dalam iman dan misi-Nya juga”.

Berita Alkitab dan segenap penafsiran atasnya mengenai kematian dan kebangkitan Yesus yang kemudian melahirkan seperangkat ajaran yang diberitakan oleh GKI, selama ini telah saya hidupi dengan iman. Ia menjadi sesuatu yang diturunkan kepada saya (tradisi) dan terus menerus saya pelajari, hayati, gumuli, hidupi agar tidak menjadi asing dan abstrak, kosong dan tanpa tujuan.

Bersamaan dengan pergumulan itu saya berjuang. Berjuang untuk dengan kreatif dan nyata melakukan tugas-tugas kependetaan dan panggilan sebagai pengikut Kristus agar misi-Nya dahulu kala menjadi misi saya juga di tengah konteks dan komunitas di mana Allah mengutus dan menempatkan saya.

Keutuhan kesadaran ini pada akhirnya saya imani sebagai sebuah tindakan pendamaian Allah yang nyata bagi hidup saya. Ada semacam rekonsiliasi yang nyata antara yang ilahi dan insani. Ada semacam pembaruan hidup untuk lagi dan lagi mati bagi dosa dan hidup untuk kebenaran. Sungguh sebuah pengalaman yang menyelamatkan.

Bagaimana dengan anda?




***

“Kami memberitakan bahwa dengan perantaraan Kristus, Allah membuat manusia berbaik kembali dengan diri-Nya. Allah melakukan itu tanpa menuntut kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan manusia terhadap diri-Nya. Dan kami sudah ditugaskan Allah untuk memberitakan kabar itu.” (2 Kor 5:19, BIS-LAI)



[1] Disampaikan dalam diskusi terbuka Komisi  Pengkajian Teologi GKI SW Jabar : “Penebusan Kristus”,  28 Agustus 2010
[2] Verkuyl, J., Aku Percaya (terj.) Soegiarto, (Jakarta:BPK-GM, 2000) h. 155
[3] Lihat juga: Adiprasetya, Joas., Berdamai dengan salib: Membedah Ioanes Rakhmat dan Menyapa Umat, (Jakarta:Grafika Kreasindo, 2010), h. 144
[4] Buku karya Groenen memperlihatkan hal ini dengan sangat menginspirasi lihat: Groenen, C. Sejarah Dogma Kristologi: Perkembangan pemikiran tentang Yesus Kristus pada umat Kristen, (Yogyakarta:Kanisius, 1988). Ada juga buku sejenis yang ditulis dari kalangan Protestan yaitu Urban, Linwood. Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen (terj. Liem Sien Kie), (Jakarta:BPK-GM, 2003), juga Lohse, Bernhard. Pengantar Sejarah Dogma Kristen, (terj. A.A. Yewangoe), (Jakarta:BPK-GM, 2001)
[5] Guthrie, Donald. Teologi Perjanjian Baru 2, (terj. Jan S. Aritonang), (Jakarta:1999), h. 48. Mulai dari halaman 37-136, Guthrie sesuai keahliannya mengembangkan teologi biblika berkaitan dengan pemaknaan karya penyelamatan Kristus. Paparan mengenai teologisasi dan refleksi dari penulis Perjanjian baru yang singkat dari Den Heyer di bawah ini dapat juga pembaca lengkapi dengan melihat paparan Guthrie.
[6] Pemaparan pada bagian ini sebagian besar saya cukil dari Den Heyer dalam Den Heyer, C.J. Jesus and the doctrine of the atonement: Biblical notes on a controversial topic, (terj. John Bowden), (London: SCM Press, 1998)
[7] Ibid. h. 79-80.
[8] Ibid. h. 83.
[9] Ibid. h. 88.
[10] Ibid. h. 102.
[11] Ada sebuah kajian menarik mengenai rekonstruksi atas teologi Paulus tentang kematian dan kebangkitan Yesus dalam Brondos, David.A., Paul on the Cross: Reconstructing the apostle`s story of redemption, (Minneapolis:Fortress Press, 2006). Brondos mensinyalir bahwa para pakar dogma pencetus teori atonement (pendamaian) terlampau berlebihan dalam menafsirkan teologi Paulus untuk membangun teori mereka.
[12] Den Heyer, op.cit. h.44.
[13] Ibid. h.45.
[14] Ibid. h.48.
[15] Ibid. h.52-53.
[16] Ibid. h.55.
[17] Ibid. h.65.
[18] Ibid. h. 70-71.
[19] Ibid.h. 116.
[20] Ibid.h. 120.
[21] Adiprasetya, op.cit., h. 27.
[22] Saya mengikuti penerjemahan Joas Adiprasetya dalam Adiprasetya, op.cit., h. 33.
[23] http://encyclopedia.stateuniversity.com/pages/2072/atonement.html, diakses pada 25 Agustus 2010. Lihat juga http://en.wikipedia.org/wiki/Atonement_in_Christianity, juga http://www.religioustolerance.org/chr_atone5.htm
[24] Adiprasetya, op.cit., h. 26-39.  Lihat juga Urban, op.cit, h. 136-157.
[25] Urban, op.cit. h.141-153.
[26] Dikutip dari artikel dalam http://www.religioustolerance.org/chr_atone1.htm yang mengutip tulisan J. Denny Weaver, "The nonviolent atonement," William B. Eerdmans, (2001), h. 2, diakses pada 25 Agustus 2010.
[27] Boland, B.J. Intisari Iman Kristen, (Jakarta: BPKGM, 2001)
[28] Mulyono, Y.B., Tuhan Ajarlah Aku (Pegangan Iman Kristen), (Surabaya:BPMS GKI JATIM, 1993)
[29] Verkuyl, op.cit.
[30] Van Niftrik, G.C. & Boland, BJ. Dogmatika Masa Kini, (Jakarta:BPK-GM, 2005)
[31] Hadiwijono, Harun. Iman Kristen, (Jakarta:BPK-GM, 1999)
[32] Adiprasetya, op.cit. h. 6.
[33] Tata Gereja dan Tata Laksana Gereja Kristen Indonesia (Jakarta:BPMS GKI, 2009), h.22.
[34] Ibid, h. 5.