Memuat...

24 Desember 2011

Hadir-Mu Pulihkan Hidupku!


Yesaya 62:6-12, Mazmur 97, Titus 3:4-7, Lukas 2:1-20

Lukas menuliskan kisah kelahiran Yesus dengan mencatat tokoh sejarah dunia pada masa itu: “Kasiar Agustus”. Kekaisaran Romawi memiliki pengaruh yang kuat di seluruh dunia pada masa itu. Bahkan Kaisar dianggap sebagai allah. Namun jelas, cara Allah, berbeda dengan cara manusia yang melulu haus kuasa. Pemulihan Allah yang hadir dalam diri Yesus dalam sosok bayi di tanah terjajah dan palungan tempat makan hewan, menunjukkan bahwa Allah berpihak kepada yang hina dan lemah, penuh dengan beban berat kehidupan.

Sesuai dengan nubuat Mika (Mi 5:2) Kristus hadir di sebuah kota kecil, dari keturunan Daud sang raja besar Israel. Tetapi segala kebesaran-Nya berangkat dari titik terendah dan hina. Hal ini memberikan hikmat bagi kita bahwa dugaan-dugaan kita tentang cara Allah berkarya jangan sampai dikaburkan dengan kedigdayaan cara manusia dengan segala kelicikan dan upaya cari nyamannya. Natal Kristus selalu merupakan bukti keberpihakan Allah pada dunia yang kotor dengan dosa, hingga pada saat-Nya Allah memulihkan dan mentahirkannya melalui karya Kristus.

Tentu kita tidak lupa dengan Yusuf dan Maria. Mereka merayakan Natal Kristus dalam keadaan yang tidak mudah. Mereka lelah secara psikis, fisik dan sosial. Betlehem dipenuhi orang-orang yang pulang kampung untuk disensus. Belum lagi, sudah bulannya bagi Maria untuk bersalin. Tetapi dalam keadaan susah itu, mereka taat. Mereka percaya bahwa melakukan kehendak Allah memang tidak selalu berarti kenyamanan. Tetapi mereka berpengharapan bahwa di dalam ketidaknyamanan itu, Allah punya rencana yang baik, bukan hanya bagi mereka, tetapi bagi Dunia ini.

Yesus lahir. Tubuh ringkih itu berbalut lampin dan dibaringkan di palungan. Tetapi kita tidak boleh lupa. Adegan ini hanyalah awal dari adegan-adegan lain dalam karya Yesus di dunia ini. Kelak Ia bertumbuh dewasa, mengajarkan dunia tentang Makna Kerajaan Allah dan memberikan hidup-Nya supaya orang yang percaya beroleh hati dan kehidupan yang baru. Kita tersadar, bahwa merayakan Natal Kristus bukan hanya mengingat memori damai Sang Bayi Mungil, tetapi juga membiarkan Kristus Natal (lahir) dalam kehidupan kita, supaya hati kita menjadi baru. Pengajaran-Nya kita laksanakan dengan kekuatan kuasa Roh Allah yang diberikan-Nya.

Ada juga para Gembala. Kepada merekalah Allah mengutus malaikat-Nya untuk memberitakan berita baik kehadiran Anak-Nya. Mereka orang-orang yang praktis dan sederhana, mungkin pemahaman agamanya tidak semahir dan sesaleh para Farisi dan Ahli Taurat, tetapi justru kepada merekalah diberitakan berita dimulainya pembaruan dunia dan kehidupan manusia melalui Kristus itu. Mereka taat, mereka pergi menjumpai Kristus, mereka percaya, mereka bersyukur, mereka memberitakan kabar baik itu kepada yang lain.

Setiap orang yang tersisih namun cukup rendah hati untuk disapa Allah sungguh akan menemukan sukacita kabar Natal Kristus. Ternyata sukacita Natal seharusnya tidak berhenti di gedung gereja, mal-mal, atau makan malam nikmat dan kue-kue sedap di tengah keluarga. Sukacita Natal seharusnya merambah kepada orang yang sederhana, orang yang rendah hati dan itu dapat terjadi kalau orang-orang bersedia dengan bergegas “menjumpai” Kristus sendiri di Natalnya, bukan sekedar menjumpai pernak-pernik Natal belaka. Dan orang-orang yang sudah “menjumpai” Kristus secara pribadi itu, dimampukan Allah untuk menyebarkan berita sukacita Natal dengan tindakan-tindakan pembaruan bagi dunia ini.

Kehadiran Kristus, sungguh memulihkan hidup kita, saat kita:
  • Memahami cara Allah berkarya yang melampaui segala pemahaman kita dan mentaati kehendak Allah mengalahkan kehendak diri sendiri, karena rencana-Nya adalah kebaikan.
  • Mau belajar dari Yusuf dan Maria yang tetap taat walau menjumpai tantangan yang berat dalam perjalanan kehidupan, dipakai Allah menjadi jalan berkat-Nya.
  • Mau me-natal-kan, me-lahir-kan Kristus dalam kehidupan kita dengan memberlakukan pengajaran-Nya.
  • Mau belajar dari para Gembala, yang walau sederhana tetapi rendah hati, mau menjumpai Kristus dan memberitakan sukacita kehadiran Kristus dengan sungguh-sungguh dan rela.

Natal adalah berita sukacita (Yes 62:11-12). Kita patut bersyukur karena kehadiran “Terang” (Mzm 97:11-12) di tengah perjalanan hidup yang kadang gelap dan tidak jelas. Oleh kemurahan Allah, kita selamat. Kita tahu pegangan hidup yang kokoh saat kita bersedia menerima pembaharuan hati yang dikerjakan Roh Kudus, melalui Yesus Kristus (Tit 3:5-7). Sungguh sebuah pemulihan hidup yang nyata dan indah! Selamat menerima pemulihan Allah dan bersedia dipulihkan Allah melalui Natal Kristus.

01 November 2011

Yitro

Orang-orang seperti Yitro dan Melkisedek, yang bukan orang Israel, tetapi memiliki kehidupan spiritual yang hidup seperti Umat Allah, banyak memainkan peranan penting dalam Perjanjian Lama (pertama). Mereka mengingatkan kepada kita komitmen Allah yang utuh bagi seluruh dunia. Allah memilih satu bangsa, tetapi kasih dan kepedulian-Nya adalah untuk semua bangsa.

Latar belakang kehidupan keagamaan Yitro mempersiapkannya untuk menanggapi panggilan untuk terlibat juga dalam rencana Allah. Saat ia melihat dan mendengar apa yang sudah Allah lakukan bagi umat Israel, dengan sepenuh hati kemudian Yitro percaya dan membina relasi yang sehat dengan Allah. Kita dapat menduga bahwa selama 40 tahun menjadi mertua Musa, Yitro telah menyimak Allah yang berkarya dalam membentuk karakter kepemimpinan yang kokoh dalam diri Musa. Hubungan Musa dan Yitro kelihatannya sangat dekat, karena pada akhirnya Musa menerima nasihat dari Yitro. Keduanya mendapatkan keuntungan satu sama lain karena saling mengenal dengan baik. Yitro "menjumpai" Allah melalui Musa, dan Musa menerima keramahtamahan, isteri, dan hikmat dari Yitro.

Hadiah terbesar yang dapat diberikan seseorang kepada yang lain ialah pada saat ia dapat menghadirkan kasih dan rahmat Allah melalui kehidupannya kepada orang lain. Tetapi "hadiah" itu menjadi hilang jika sikap seorang percaya memiliki jiwa yang merasa bahwa "saya memiliki lebih banyak hadiah untuk kamu, sementara kamu tidak dapat memberikan apa-apa". Sahabat sejati memberi dan menerima satu sama lain. Pentingnya memperkenalkan kasih Allah kepada seorang sahabat tidak membuat hadiah yang diberikannya untuk kita menjadi tidak penting. Malah sebenarnya kita mendapatkan berkat yang terselubung dalam persahabatan yang tulus dan saling peduli satu sama lain.

Apakah kita memiliki hubungan yang sehat dan hidup dengan Allah? Apakah sahabat-sahabat kita telah tiba pada pengakuan seperti yang Yitro ungkapkan bahwa "TUHAN lebih besar dari segala allah;" (Kel 18:11)?

Kisah Yitro dapat dibaca dalam Keluaran 2:15 - 3:1; 18:1-27. Yitro juga disinggung dalam Hakim-Hakim 1:16.

(Disadur dari Life Application Study Bible)