Manusia berkarya. Mulai dari karya yang paling sederhana sampai kepada apa yang kadang disebut sebagai Maha Karya. Apa yang membedakan hasil karya menjadi karya biasa atau Maha Karya? Karya biasa hanya memberikan impresi bagi sedikit orang dalam lingkup terbatas dan dalam jangka waktu yang pendek. Tetapi Maha Karya, membuat orang terpesona bukan hanya karena karyanya semata, tetapi ada pengaruh yang mengubahkan suasana hati dan kehidupan bagi orang yang menyimak karya itu.
Bagaimana Maha Karya dihasilkan? Dengan cinta, perhatian penuh, ketelitian, kesukacitaan, melampaui apa yang biasa, karena telah menemukan yang luar biasa dibalik apa yang biasa dilihat orang kebanyakan. Keutuhan upaya dalam ritme itulah yang menghasilkan Maha Karya. Seolah-olah ada bagian jiwa yang lahir dalam karya yang menjadi 'maha' itu.
Maha Karya tidak harus berupa karya yang spektakuler beranggaran besar yang hinggar binggar dengan gemerlap kemewahan. Maha Karya dapat berangkat dari kekaryaan hidup sehari-hari yang dilakukan dengan cinta, sepenuh hati, sepenuh jiwa dalam semangat memberi yang baik kepada orang lain. Sebenarnya Maha Karya tidak jauh dari diri manusia. Ia menunggu untuk disadari, digali, ditemukan, dibangun dan dipersembahkan kepada khalayak.
Salam, Eisen
Sent from my BlackBerry®
powered by Google®
Kejutan dalam hidup adalah keniscayaan. Akan ada pada suatu waktu tertentu, apa yang diharapkan tidak berlangsung sebagaimana mestinya, atau apa yang ideal tidak terjadi dalam kenyataan. Saat ini terjadi ada beberapa pilihan sikap yang dapat diambil. Tetap pada pendirian ideal dengan gesekan-gesekan perasaan "susah" yang akan muncul dengan kuat demi mempertahankan apa yang seharusnya terjadi, atau pada akhirnya mau melangkah kepada normalitas hidup dengan melihat bahwa pada akhirnya memang ada hal-hal yang terjadi di luar kendali dan kemampuan manusia.
God! Teach us to death
in the sense of your death, heart;
rise up, take your way
into Thy presence.[2]
Commission for Theological Studies at Synod of GKI West Java Region has provided me `systematic tools` for preparing this material discussion. My part, as "representative" of the clergy, including: the view (from the sources of theological knowledge, which pervades the tradition, the Bible, etc.), internal-external sharing experiences and concludes with reflections. I think that was very helpful for limiting the problem, considering the topic of "the redemption of Christ" is a topic that is very rich at all to be dug and discussed. My hope is this writing still producing inspirations for people in the church, so that in performing the task and vocation (remembering what Eka Darmaputera said) becomes more relevant and significant to the outside as inwards.



